Puru ajal Tulang – Tidak Perlu Amputasi, Dapat Direhabilitasi

shutterstock 129065108 copy - Puru ajal Tulang - Tidak Perlu Amputasi, Dapat Direhabilitasi
Kanker Tulang - Tak Perlu Amputasi, Bisa Direhabilitasi
Tumor ganas Tulang – Tidak Perlu Amputasi, Mampu Direhabilitasi

Jendulan pada seseorang bukan selalu berkonotasi mati. Bagi wanita, “benjolan di bagian dada” boleh jadi bisa mengeraskan kecantikan, tetapi bila benjolan itu terjumpa pada bagian tubuh yang tak semestinya, pasti harus diwaspadai, nampaknya itu merupakan petunjuk awal terjadinya puru ajal tulang. Benarkah tumor ganas tulang kini dapat direhabilitasi, tak butuh amputasi?

KANKER tulang, pikir para ahli, belum diketahui penyebabnya. Itulah sebabnya mengapa penderita harus menjalani memotong alias dipotong potongan tubuh yang terbentur kanker itu.

Bersyukurlah kalian sekarang ini, keberuntungan teknologi di lebar kedokteran telah sanggup memberi harapan-harapan segar bagi penderita puru ajal tulang. Istilah renovasi, mungkin bisa kian pas untuk itu yang menjalani pengobatan kanker tulang sekarang, dimana dokter hendak melakukan penggantian urat yang rusak secara tulang yang pertama, dengan cara penyemenan. Cara terakhir itu praktis bukan tanpa kendala. Sulitnya menyalin tulang pada orang2 yang sudah tewas adalah salah satunya. Kecuali itu, istilah donor tulang pun kiranya belum terlalu ternama di telinga beberapa orang. Untuk mengetahui seluk-beluk kanker jenis yang satu ini, lalu petikan wawancara pereka dengan Dr Nicolaas Budhiparama, FICS, pandai Bedah Tulang dalam RS Kanker Dharmais, Jakarta;

Dapat Anda terangkan perihal kanker rangka?
Sebelumnya perlu tersua bahwa antara uci-uci dan kanker tentu saja artinya. Tersedia tiga macam uci-uci tulang yaitu yang bersifat lunak, zalim dan yang mempunyai lesi di urat (berlubangnya struktur sebab jaringan akibat musnah atau penyakit). Kecuali itu ada yang bersifat primer & skunder. Pada uci-uci tulang skunder senyampang, seseorang terkena uci-uci payudara, kemudian merambut ke tulang serta selanjutnya menggerogoti rangka tersebut. Kanker urat ini merupakan keluarga tumor tulang yang ganas.

Tingkat bahayanya?
Puru ajal paling sulit ditangani. Sebagai perbandingan, di kanker jenis unik, sebut saja tumor ganas payudara yang punya banyak jenis, patologinya mudah diketahui, jadi tidak sulit ditangani. Berbeda dengan puru ajal tulang yang jenisnya banyak pula, namun penangannannya berbeda-beda. Sebab terlalu banyaknya, tidak heran terjadi cela diagnosa, akibatnya efektif akan salah juga pengobatannya.

Bedanya dengan “osteoporotis”?
Jelas berbeda, osteoporotis penyakit yang ditandai dengan adanya kerapuhan di tulang, desebabkan kekurangan kalsium. Osteoporotis biasanya terjadi di dalam orang-orang lanjut usia, namun kanker tulang penyebabnya hingga sekarang belum diketahui. Celakanya, mampu menyerang semua umur. Karena belum terlihat penyebabnya, maka sukar kita mencegah. Yang bisa dilakukan saat ini hanyalah menyembuhkan, mengganti dan memotong bagian yang tersangkut tumor yang tidak siap diselamatkan.

Prevalensinya di Nusantara?
Belum diketahui dengan pasti. Di zona ini belum tersedia pusat data hal kanker tulang berdasar pada menyeluruh. Yang sanggup saya katakan waktu ini, ada rumah perih yang baru menjumput jumlah penderitanya, akan tetapi mereka berdiri individual, sehingga jumlah menyeluruh di masyarakat gak diketahui pasti. Kadang ada rencana RS Kanker Dharmais beserta RS Cipto Mangunkusumo mendirikan pusat petunjuk ini. Kalau tersebut terwujud nanti jelas prevalansinya diketahui.

Dapat Kamu jelaskan gejala mula penyakit ini?
Itu yang penting tersua. Untuk gejala uci-uci tulang jinak, lazimnya penderita tidak mendapat sakit sama sekali. Senyampang sedang bermain sepakbola terjatuh, kemudian sesudah difoto rontgen ternyata terdapat tumor kasih. Sementara tumor pemberang mulanya mungil disertai benjolan. Jendulan itu bisa gede, bisa juga imut. Keadaan ini diikuti rasa sakit & berwarna merah. Kalau jendulan tadi diurut, sumber tumor tadi bakal pecah, akibatnya dapat menyebar ke sesi lain. Kebiasaan diurut lazim terjadi pada masyarakat kita. Sementara itu ini sangat rusuh, sebab bisa aja tumor tersebut jadi tidak terlokalisir.

Kalau demikian, mengurut itu kritis bagi mereka yang keseleo atau yang habis terjatuh?
Masalah kesehatan timbul bukan olehkarena itu terjatuhnya yang terjun, melainkan sebelumnya penderita memang sudah mempunyai tumor terlebih dulu. Kalau dalam keadaan seperti ini dilakukan pengurutan bisa berakibat uci-uci tadi pecah serta menyebar. Dalam kondisi demikian sudah barang tentu kudu ditanggulangi melalui menyelesaikan tulang. Sementara yang rusak diamputasi. Hamba tidak mengatakan penuntun urut itu nista, namun saya kian menganjurkan si penderita difoto rontgen lewat, hingga diketahui terbuka, tumor atau tak. Bagi yang tidak ditemui tumor dan mengakui akan dukun mangga saja diurut. Namun bagi yang ada tumor, maka kelakuan mengurut itu amat berbahaya.

Tumor seperti itu senangnya di bagian segala sesuatu?
Biasanya, bisa tersembunyi di dalam dan dalam luar tulang. Untuk diketahui, kanker rangka tidak ada kaitannya secara makanan. Ada orang-orang menduga akibat radioaktif yang terdapat pada lingkungan masyarakat. Namun memang belum terlihat secara pasti apa-apa penyebabnya.

Mereka yang berisiko tinggi?
Ini berlangsung, tergantung dari macam tumornya. Kalau jenisnya osteosarcoma misalnya, cenderung terjadi pada umur muda (belasan tahun). Sedangkan kelompok condrosarcoma terjadi pada umur di atas 50 tahun. Yang sungguh ada bisa mengenai seluruh kelompok umur.

Pilihan beda selain amputasi?
Intim setiap kanker urat ganas dengan seluruh kondisi apapun, lepas selalu dilakukan memotong untuk menghindari ketewasan. Sekarang dengan pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dilakukan jalan lain yang kian “terhormat”. Si penderita yang terkena tumor ganas sebelum diganti tulangnya terlebih dahulu dimatikan kankernya dengan pengobatan. Kalau masih mampu ditambal, ya disemen. Atau juga menggunakan ragam teknik baru limb salvage, dimana rangka yang terkena uci-uci ganas disambung beserta bekas kaki pasien berbeda yang baru saja menyisih dunia. Sesuai secara perkembangan, teknik terapi baru ini sudah dikembangkan di intim semua pusat penyembuhan kanker di seluruh jagat. Angka keberhasilannya naik 80%. Di Nusantara juga mulai diterapkan. Pasien terlebih lalu menjalani kemoterapi, sehabis itu baru uci-uci ganasnya diangkat. Jika tulang yang turut serta perlu diganti, oleh karena itu diganti. Tentu saja kerjasama dalam pelaksanaan modus operandi ini menuntut kualitas tersendiri.

Namun cara tersebut membutuhkan biaya menjulung?
Biaya mahal tidak begitu problem. Yang menjadi masalah ialah soal donor urat. Seperti halnya dengan donor mata, hanya buatan persen pendonornya bermula dari dalam negeri. Berbeda dengan sebagian besar pendonor datang dari Srilanka. Begitu juga dengan pendonor tulang. Berbeda beserta di luar teritori. Di negeri Belanda misalnya, banyak orang yang mendonorkan tulangnya. Mayatnya dibedah, diambil tulangnya dan diganti secara kayu. Oleh karena itu di Belanda, soal pengadaan rangka tak menjdi seksi.