Hidup Melajang Ternyata Bisa Meningkatkan Resiko Kematian Dini

doktersehat patah hati cinta - Hidup Melajang Ternyata Bisa Meningkatkan Resiko Kematian Dini
Hidup Melajang Ternyata Bisa Meningkatkan Resiko Kematian Dini
Hidup Melajang Ternyata Bisa Meningkatkan Resiko Kematian Dini

Kini, semakin banyak orang yang memilih untuk hidup melajang hingga usia yang tua. Dengan hidup sendiri, mereka tidak akan terbebani dengan pengeluaran bulanan keluarga seperti yang dialami oleh mereka yang sudah menikah atau bahkan punya anak. Mereka bahkan dengan bangga menyebut bahwa dengan hidup sendiri, mereka bebas untuk melakukan apa saja atau bepergian kemanapun tanpa beban.

Meskipun terlihat menyenangkan, pakar kesehatan ternyata menyebutkan bahwa orang dewasa yang memilih untuk melajang ternyata memiliki resiko lebih besar untuk terkena berbagai penyakit dan bahkan terkena kematian dini jika dibandingkan dengan mereka yang tidak melajang. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Angie LeRoy yang berasal dari Rice University di Texas, Amerika Serikat, melakukan sebuah penelitian untuk mencari tahu kaitan antara hidup sendiri dengan kondisi kesehatan seseorang. Ia pun meminta 160 orang dewasa yang menderita demam untuk tinggal di kamar hotel dan diisolasi selama lima hari. Sebagian partisipan ternyata mengaku jika di dalam hotel, mereka cenderung merasa kesepian dan bahkan merasa badannya semakin tidak sehat. Dengan adanya fakta ini, LeRoy pun menyimpulkan bahwa mereka yang sendirian saat terkena gejala penyakit akan cenderung lebih mudah untuk memperburuk kondisi kesehatannya jika dibandingkan dengan mereka yang tidak kesepian.

Penelitian yang hasilnya dipublikasikan dalam jurnal berjudul Health Psychology ini menyebutkan bahwa orang dewasa yang hidup dengan kesepian memang memiliki kemungkinan kecil untuk terkena demam. Namun, sekalinya mereka terkena demam, kondisi kesehatan mereka akan cenderung semakin memburuk.

Pakar kesehatan dr. Chris Fagundes yang juga terlibat dalam penelitian ini menyebutkan bahwa penemuan ini sebaiknya menjadi bahan pertimbangan dokter saat melakukan pemeriksaan pada pasiennya. Dengan mempertimbangkan faktor psikologis pasien, maka diharapkan dokter bisa memberikan penanganan yang tepat agar para pasien ini tidak merasa kesepian dan lebih mudah sembuh.