Beragam Kelainan Seksual/ Parafilia

shutterstock 311949818 copy - Beragam Kelainan Seksual/ Parafilia
Beragam Kelainan Seksual/ Parafilia
Beragam Kelainan Seksual/ Parafilia

Beberapa tahun terakhir, secara disadari maupun tidak, kita akrab dengan berbagai tayangan yang berhubungan dengan kasus penyimpangan perilaku seksual. Di antaranya adalah kasus pedofilia yang sering kita lihat maupun baca di media massa, sadomasokisme yang merupakan tema dari film Hollywood terkenal Fifty Shades of Grey, dan transvetisme yang kita kenal dari film The Danish Girl yang diperankan oleh Eddie Redmayne . Ketiga hal tersebut hanyalah beberapa jenis dari suatu parafilia. Nah, apa itu parafilia?

Parafilia merupakan penyimpangan perilaku seksual yang ditandai dengan adanya fantasi dan keinginan seksual terus menerus dengan objek, aktivitas atau kondisi yang tidak biasa. Keinginan tersebut kadang dirasa harus dipenuhi agar pengidapnya dapat berfungsi secara seksual, walaupun juga menimbulkan rasa malu dan tertekan pada dirinya. Berikut beberapa contoh perilaku seksual yang termasuk parafilia:

Seorang ekshibisionis (sebutan untuk orang dengan ekshibisionisme) senang menunjukkan alat kelaminnya pada orang asing untuk menimbulkan kepuasan seksual. Mereka senang jika mampu ‘mengejutkan’ korbannya. Menurut literatur, ekshibisionis jarang melakukan kontak seksual terhadap korbannya. Walaupun demikian, beberapa ekshibisionis senang melakukan masturbasi ketika memamerkan alat kelaminnya.

Fetish (sebutan untuk orang dengan fetishisme) menyukai fantasi atau hubungan seksual dengan benda mati. Ia mendapatkan kepuasan seksual dengan mengenakan atau menyentuh benda mati tertentu, misalnya pakaian dalam atau sepatu. Benda tersebut kadang digunakan saat berhubungan seksual atau dijadikan sebagai partner seksual untuk menimbulkan kepuasan. Gangguan seksual lain, pasialisme, merupakan ketertarikan seseorang pada bagian tubuh tertentu, misalnya kaki, payudara atau bokong.

Pengidap frotteurisme mendapatkan kepuasan seksual dengan menggesek-gesekkan alat kelaminnya pada orang asing. Kasus yang sering ditemui adalah di keramaian dimana semua orang berdesak-desakan, seorang pria menggesek-gesekkan alat kelaminnya pada wanita.

Pedofil (sebutan orang dengan pedofilia) memiliki fantasi, keinginan, dan berperilaku seksual yang ilegal pada anak. Umumnya anak yang disukai berusia kurang dari 13 tahun. Pedofil seringkali memaksa untuk menelanjangi anak, membujuk anak menonton dirinya masturbasi, menyentuh alat kelamin anak, dan memaksa anak untuk berhubungan seksual dengannya. Beberapa pedofil tidak memiliki hasrat seksual sama sekali terhadap orang dewasa. Anak yang menjadi korban biasanya memiliki hubungan kekerabatan dengan pelaku.

Seorang masokis seksual mendapatkan kepuasan melalui rasa kesakitan yang nyata maupun simulasi. Rasa kesakitan tersebut umumnya didapat dengan pukulan, tamparan, diikat, atau cacian verbal. Saat berfantasi, seorang masokis dapat menyayat atau menusuk kulitnya untuk mendapatkan sensasi nyeri. Pada kasus yang berat, aktivitas masokistik dilakukan dengan menjerat leher atau membekap hingga asfiksia untuk mencapai orgasme. Hal ini seringkali menyebabkan kematian.

Pasangan dari pelaku masokisme adalah pelaku sadisme. Ia terus menerus befantasi dan mendapatkan kepuasan seksual dengan menyakiti secara fisik maupun psikis pada pasangannya, seperti menyiksa, memerkosa, bahkan membunuh. Namun tidak semua pelaku pemerkosaan mengidap sadisme seksual. Pelaku sadisme harus mendapatkan terapi psikiatrik intensif.

Transvetisme adalah suatu penyimpangan perilaku seksual dimana seorang pria heterokseksual mendapatkan hasrat seksual dengan mengenakan pakaian wanita. Umumnya mereka tidak membutuhkan pasangan seksual karena memfantasikan dirinya juga sebagai pasangan wanita. Sebagian pengidap transvetisme hanya memakai pakaian dalam wanita saja untuk mendapatkan hasrat tersebut, sebagian lainnya memakai pakaian lengkap dengan tatanan rambut dan make up.

Voyeur (sebutan untuk pengidap voyeurisma) mendapatkan hasrat seksual dengan mengintip orang yang telanjang atau sedang berhubungan seksual. Seringkali ia bermasturbasi sambil mengintip. Voyeur tidak menginginkan kontak seksual dengan orang yang diintipnya.

Pengidap parafilia umumnya tidak mudah diketahui karena melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, namun diduga sebagian besar adalah pria. Beberapa jenis parafilia, seperti pedofilia, ekshibisionisme, voyeurisme, sadisme, dan frotteurisme seringkali menyebabkan rasa tidak aman pada orang di sekitarnya dan dianggap sebagai perilaku kriminal.

Umumnya parafilia dimulai sejak usia remaja dan berlanjut hingga dewasa. Para ahli menduga penyebab terjadinya parafilia antara lain:

Sebagian besar kasus parafilia dapat ditangani dengan konseling dan pengobatan. Yang jelas, terapi pada parafilia harus dilakukan secara berkelanjutan. Sebaiknya parafilia segera diterapi sebelum penderita membahayakan dirinya dan orang lain serta untuk mencegah terlibat dalam masalah hukum.