Bau Awak Bisa Meningkatkan Resiko Kanker Payudara

shutterstock 335665211 copy - Bau Awak Bisa Meningkatkan Resiko Kanker Payudara
Bau Badan Bisa Meningkatkan Resiko Kanker Payudara
Aroma Badan Bisa Menumbuhkan Resiko Kanker Susu

Bau awak adalah bau gak sedap pada pranata yang disebabkan sebab bakteri dan peluh.

Bebauan badan berlebihan ternyata disebut-sebut sebagai satu diantara faktor yang siap meningkatkan resiko terantuk kanker payudara. Padahal hasil penelitian sastrawan Jepang ini tetap sangat dini, tapi hal ini sanggup menjadi sinyal untuk kaum wanita untuk lebih menjaga transparansi dirinya.

Ilmuwan Jepang belum lama telah menemukan variasi gen yang terkait dengan resiko tumor ganas payudara yang juga terpesona dengan bau lembaga dan kotoran telinga.

Hasil ini tidak dimaksudkan untuk membuat risau para wanita, ujar Toshi Ishikawa, PhD, profesor dari Biomolecular Engineering di Institute of Technology Tokyo. Sebaliknya, ia menunjukkan, kami sangat bertafakur bahwa kami hendak memberikan cara trendi yang lebih indah dalam memprediksi resiko kanker payudara secara menggunakan metode mutakhir yang dikembangkan sambil timnya ini.

Memiliki buangan telinga basah / bau badan kelewatan tidak berarti seorang perempuan yang telah menjadi kanker payudara, omongan Ishikawa. Supaya tentu, saya harus ulet menyebutkan bahwa [penemuan variasi gen yang berhubungan beserta badan bau, tahi kotok telinga basah, serta risiko kanker payudara] adalah satu diantara faktor yang bisa meningkatkan risiko puru ajal payudara, kata Ishikawa. Hal ini pula berkaitan erat secara faktor-faktor lain, menyerupai faktor lingkungan & mutasi dari gen pembunuh tumor laksana BRCA1, BRCA2, p53, dan seterusnya.

Dalam pertimbangan ini, Ishikawa serta timnya mengekstraksi DNA dari sampel resam yang diambil mulai 124 sukarelawan dalam Universitas Nagasaki Jepang.

Tersebut mempelajari gen ABCC11, yang ditemukan dalam tahun 2001. Variasi dari gen itu telah dihubungkan beserta peningkatan resiko tumor ganas payudara. Variasi tersebut disebut SNPs (snips) atau single nucleotide polymorphisms, yang dapat saja terjadi tatkala satu inti kerangkeng atau molekul menanggung perubahan. Meskipun tidak sedikit SNPs tidak menawan cara kerja petak, para ahli menganggap bahwa terkadang tersedia variasi yang siap menyebabkan seseorang untuk mengidap penyakit khusus seperti kanker ataupun mempengaruhi respon seseorang terhadap pengobatan.

Dalam ulasan ini, Ishikawa meneliti aktifitas protein yang dibuat oleh gen ABCC11, mencari kumpulan antara gen ABCC11, bau badan & kotoran telinga. Lantas mereka menemukan metode sel yang menyusun kotoran telinga, bebauan badan berlebihan serta resiko kanker tetek.