Apa tersebut Ambeien?

shutterstock 292968971 copy - Apa tersebut Ambeien?
Apa itu Ambeien?
Apa itu Ambeien?

Ambeien/ Hemorrhoid adalah pelebaran vena di dalam pleksus hemorroidalis yang tidak merupakan kondisi patologik. Hemorrhoid adalah pembengkakan submukosa saat lubang anus yang mengandung pleksus vena, arteri kecil, & jaringan areola yang melebar.

Hemorrhoid, ambeien, / wasir dapat dialami oleh siapapun. Namun, seringkali penderita ngerasa malu atau dianggap tidak penting dipastikan kurang memperhatikan huru-hara kesehatan ini. Berdasar pada anatomi ambeien bukanlah penyakit, melainkan reparasi fisiologis yang tercipta pada bantalan tenggorokan darah di pantat, berupa pelebaran serta pembengkakan pembuluh kadim dan jaringan sekitarnya.

Kegunaan bantalan ini guna klep/ katup yang membantu otot-otot ekor menahan feses. Jika terjadi gangguan (bendungan) aliran darah, oleh karena itu pembuluh darah mau melebar dan membusung, keadaan ini dikenal ambeien.

Secara umum, ambeien dibagi dua yakni Ambeien Internal & Ambeien eksternal.

1. Ambeien internal
pembengkakan terjadi dalam rektum sehingga tidak sanggup dilihat atau diraba. Pembengkakan jenis berikut tidak menimbulkan mencicip sakit karena seharga ada sedikit saraf di daerah rektum. Tanda yang mampu diketahui adalah pendarahan saat buang air besar. Masalahnya jadi tidak simpel lagi, bila ambeien internal ini mengembung dan keluar di bibir anus yang menyebabkan kesakitan. Ambeien yang terlihat mempunyai warna pink ini sehabis sembuh dapat mengakar sendiri, tetapi dapat juga didorong menyerap.

2. Ambeien eksternal
menyerang anus oleh karena itu menimbulkan rasa nyeri, perih, dan gatal. Jika terdorong terserondok oleh feses, ambeien ini dapat menyebabkan penggumpalan (trombosis), yang menjadikan ambeien bercorak biru-ungu.

Etiologi
Peningkatan tolakan vena akibat mengedan (diet rendah serat) atau perubahan hemodinamik (selama hamil) menerbitkan dilatasi kronis atas pleksus vena submukosa. Ditemukan pada status jam 3, tujuh, dan 11 di lubang anus.

Selain ini hemorrhoid juga dikarenakan karena:

Gejala

Ambeien pada Permulaan hamil
Hal itu terjadi pada permulaan hamil akibat tuntutan pertumbuhan janin di dalam vena hemorrhoid. Pokok hamil sangat sensitif menderita ambeien olehkarena itu meningkatnya kadar hormon kehamilan yang melemahkan dinding vena dalam bagian anus. Penuh ibu hamil yang menderita ambeien sesudah 6 bulan umur kehamilan karena memilikinya peningkatan tekanan vena dalam area memikul. Beberapa ibu berbadan dua juga mengalami ambeien selama proses pakaian (pengganti) akibat tekanan budak yang kuat. Kompleksitas setelah melahirkan pun memicu ambeien. Misalnya, lembutnya daerah tempik dan bagian pantat acap menyebabkan pokok menunda buang air besar, maka itu memicu terjadinya sembelit dan wasir.

Gambaran klinis

Perkiraan

Interogasi
Sebelum dapat dijalani pengobatan, diperlukan pengamatan yang teliti.

Pencegahan
Siap banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegah berulangnya kekambuhan wasir, diantaranya:

Terapi
Tersedia dua macam pengobatan yaitu tanpa sistem dan dengan jalan operasi. Kedua ulah cara ada moral dan kerugiannya. Di cara pertama bisa dilakukan dalam kerangka rawat jalan lumayan pada cara ke-2 pasien harus dirawat karena dilakukan di pembiusan. Terapi biasa dapat dilakukan secara pencahar dan diet tinggi serat.

Sedangkan terapi yang kompleks siap dilakukan skleroterapi, ligasi dengan ikatan Barron, bedah krio/ mandek, dan hemorrhoidektomi.

Skleroterapi
Ialah penyuntikan larutan kimia yang merangsang, contohnya 5% fenol di dalam minyak nabati. Penyuntikan diberikan ke submukosa di dalam jaringan areolar yang longgar pada bwah hemorrhoid internal dengan tujuan menyebabkan peradangan steril yang kemudian menjadi fibrotik dan meninggalkan gores. Penyuntikan dilakukan lebih dari di sebelah buat dari garis mukokutan dengan jarum yang panjang melalui anuskop. Apabila penyuntikan dikerjakan di tempat yang tepat maka tak akan terasa nyeri.

Penyulit penyuntikan merupakan infeksi, prostatitis akut jika merasuk kedalam prostat, serta reaksi hipersensitivitas tentang obat yang disuntikkan.

Ligasi dengan gelang karet/ Ikatan Barron
Hemorrhoid yang besar ataupun yang mengalami prolaps dapat ditangani beserta ligasi gelang kejai menurut Barron. Secara bantuan anuskop, mukosa di atas hemorrhoid yang menonjol dijepit dan ditarik / dihisap ke interior tabung ligator luar biasa. Gelang karet didorong dari ligator & ditempatkan secara kuat disekeliling mukosa pleksus hemorrhoidalis tersebut. Nekrosis karena iskemia berlangsung dalam beberapa tarikh. Mukosa bersama (getah) perca akan lepas tunggal. Fibrosis dan kukur akan terjadi dalam pangkal hemorrhoid ini. Pada satu kolam terapi hanya diikat satu kompleks hemorrhoid, sedangkan ligasi selanjutnya dilakukan dalam sela waktu dua datang empat minggu.

Penyulit tertinggi dari ligasi tersebut ialah timbulnya sakit karena terkenanya strip mukokutan. Nyeri yang hebat dapat lagi disebabkan oleh luka, Perdarahan dapat tercipta pada waktu hemorrhoid melakoni nekrosis, biasanya tujuh sampai sepuluh perian.

Tandas beku/ KRIO
Hemorrhoid dapat pula dibekukan dengan pendinginan saat suhu yang nista sekali. Bedah stagnan ini tidak digunakan secara luas tentang mukosa yang nekrotik sukar ditentukan luasnya. Bedah krio berikut lebih cocok untuk terapi paliatif di karsinoma rektum yang inoperabel.

Hemmorrhoidektomi
Terapi rubuh ini dipilih untuk penderita yang menanggung keluhan menahun serta pada penderita hemorrhoid derajat III ataupun IV. Terapi terbabang juga dapat dijalani pada penderita secara peradangan berulang & anemia yang tidak membaik dengan cara terapi lainnya yang kian sederhana. Penderita hemorrhoid derajat IV yang mengalami trombosis serta kesakitan hebat sanggup ditolong segera beserta hemorrhoidektomi.

Prinsip yang mesti diperhatikan pada hemorrhoidektomi adalah eksisi yang hanya dilakukan di dalam jaringan yang luar biasa berlebihan. Eksisi sehemat mungkin dilakukan dalam anoderm dan indra peraba yang normal secara tidak mengganggu sfingter anus.

Referensi
Pierce A, Grace & Neil R Borley, 2007, “At a Glance: Ilmu Bedah Ed. 3“, Jakarta: EMS
R. Syamsuhidajat & Wim de Jong, 2005, Buku Jaga Ilmu Bedah Ed. 2.