Apa Itu Tumor ganas Kolorektal (Rektum)?

shutterstock 256698106 copy - Apa Itu Tumor ganas Kolorektal (Rektum)?
Apa Itu Kanker Kolorektal (Rektum)?
Apa Itu Puru ajal Kolorektal (Rektum)?

Kanker kolorektal bersumber dari jaringan usus besar (bagian terpanjang dari usus buntal besar) atau rektum, (bagian kecil belakang dari usus gede sebelum anus). Beberapa besar kanker kolorektal adalah tipe puru ajal adenocarcinomas (Kanker yang berasal dari kerangkeng yang membuat serta melepaskan lendir / cairan lainnya).

Penyebab
Seseorang dengan riwayat titisan menderita kanker kolon, memiliki resiko menjulung mengidap kanker. Sejarah poliposis keturunan ataupun penyakit yang sedarah juga meningkatkan resiko kanker kolon. Penderita kolitis ulserativa / penyakit Crohn mempunyai resiko lebih semampai untuk menderita tumor ganas. Resikonya berhubungan beserta usia penderita di saat kelainan berikut timbul dan lamanya penderita mengalami kepelikan ini.

Makanan memegang perananan penting dalam resiko kanker kolon, tapi bagaimana caranya, gak diketahui. Di seluruh globe, orang dengan resiko tertinggi adalah yang tinggal di perkotaan dan mengkonsumsi santapan khas orang-orang barat yang kaya. Santapan tersebut rendah sendat dan tinggi zat putih telur hewan, lemak & karbohidrat. Resiko rasa-rasanya menurun dengan diet tinggi kalsium, vitamin D dan sayuran seperti toge Brusel, kubis dan brokoli.

Tanda
Kanker kolorektal berkembang perlahan dan membuang waktu yang lelet sebelum menyebabkan tanda. Gejalanya tergantung terhadap jenis, lokasi serta penyebaran kanker. Usus besar sebelah daksina (kolon asendens) punya diameter yang raksasa dan dinding yang tipis. Karena isinya berupa cairan, kolon asendens tidak akan mogok sampai terjadinya babak akhir kanker.

Tumor di dalam kolon asendens dapat begitu membesar maka itu dapat dirasakan oleh dinding perut. Lembek karena anemia yang berat mungkin adalah satu-satunya gejala. Usus besar sebelah kiri (kolon desendens) mempunyai diameter yang kian kecil dan benteng yang lebih tetap dan tinjanya terkaan padat. Kanker condong mengelilingi bagian kolon ini, menyebabkan sembelit dan buang air besar yang sering, secara berputar.

Sebab kolon desendens kian sempit dan dindingnya lebih tebal, penyumbatan terjadi lebih dahulu. Penderita mengalami pedih kram perut ataupun nyeri perut yang hebat dan sembelit. Tinja bisa berdarah, tetapi lebih kerap darahnya tersembunyi, & hanya bisa terlihat melalui pemeriksaan lab..

Rutin kanker menyebabkan perdarahan, tapi biasanya renek. Pada kanker rektum, gejala pertama yang paling sering ialah perdarahan selama ke belakang. Jika rektum berdarah, bahkan bila penderita diketahui juga menelan wasir atau patogen divertikel, juga mesti difikirkan kemungkinan terjadinya kanker. Pada puru ajal rektum, penderita mampu merasakan nyeri tatkala buang air besar dan sentimen bahwa rektumnya belum sepenuhnya kosong. Hidup bisa terasa nyeri. Tetapi biasanya penderita tidak merasakan sakit karena kankernya, hanya kanker sudah memencar ke jaringan diluar rektum.

Diagnosa
Seperti tumor ganas lainnya, pemeriksaan penyaring rutin, membantu hasil dini dari puru ajal kolorektal. Tinja diperiksa secara mikroskopik untuk menghitung jumlah kadim. Untuk membantu memastikan hasil pemeriksaan yang tepat, penderita menandaskan daging merah utama serat selama 3 hari sebelum pengambilan sampel tinja. Apabila pemeriksaan penyaring itu menunjukan kemungkinan tumor ganas, dibutuhkan pemeriksaan tambahan.

Pra dilakukan endoskopi, usus dikosongkan, seringkali secara menggunakan pencahar serta beberapa enema. Lebih kurang 65% kanker kolorektal dapat dilihat beserta sigmoidoskop. Bila turun polip yang sepertinya ganas, seluruh usus besar diperiksa secara kolonoskopi, yang kompetensi jangkaunya lebih jenjang. Beberapa pertumbuhan yang terlihat ganas diangkat dengan menggunakan pesawat bedah melalui kolonoskopi, pertumbuhan lainnya pantas diangkat dengan pembedahan biasa.

Pemeriksaan darah sanggup membantu dalam menjalin diagnosis. Pada 70% orang yang menahan kanker kolorektal, predestinasi antigen karsinoembriogenik di dalam darahnya tinggi. Kalau sebelum kanker diangkat kadar antigen tersebut tinggi, maka setamat pembedahan kadarnya siap turun. Pada pelayar an berikutnya, kadar antigen ini diukur balik; jika kadarnya naik berarti kanker sudah kambuh kembali. Dapat juga dilakukan pengukuran 2 antigen yang lain, yaitu CA19-9 & CA 125, yang mirip dengan antigen karsinoembbriogenik.

Pengobatan
Pengobatan yang utama pada kanker kolorektal adalah pengangkatan potongan usus yang tertumbuk dan sistem getah beningnya. 30% penderita tidak dapat mentoleransi pembedahan karena ketenteraman yang buruk, dengan demikian beberapa tumor diangkat melalui elektrokoagulasi. Jalan ini bisa menyusutkan gejala dan memperpanjang usia, tapi bukan menyembuhkan tumornya.

Pada mayoritas kasus kanker kolon, bagian usus yang ganas diangkat beserta pembedahan dan sesi yang tersisa disambungkan lagi. Untuk puru ajal rektum, jenis operasinya tergantung pada seberapa jauh jarak tumor ganas ini dari pantat dan seberapa interior dia tumbuh di dalam dinding rektum. Pengangkatan seluruh rektum dan anus mensyariatkan penderita menjalani kolostomi menetap (pembuatan relasi antara dinding alat pencernaan dengan kolon). Beserta kolostomi, isi usus besar dikosongkan menjalani lubang di pagar perut ke pada suatu kantung, yang disebut kantung kolostomi.

Jikalau memungkinkan, rektum yang diangkat hanya sekitar, dan menyisakan pucuk rektum dan dubur. Kemudian ujung rektum disambungkan ke seksi akhir dari kolon. Terapi penyinaran sesudah pengangkatan tumor, sanggup membantu mengendalikan pertambahan tumor yang tercecer, memperlambat kekambuhan serta meningkatkan harapan kehidupan. Pengangkatan tumor & terapi penyinaran, akurat untuk penderita puru ajal rektum yang disertai 1-4 kanker pankreas getah bening. Namun kurang efektif dalam penderita kanker rektum yang memiliki kian dari 4 tumor ganas kelenjar getah bening.

Jika kanker kolorektal telah menyebar serta tampaknya pembedahan gak membantu penyembuhan, dapat dilakukan kemoterapi secara florouracil dan levamisole, yang bisa merangsangkan harapan hidup. Jika kanker kolorektal sudah begitu menyebar jadi tidak dapat diangkat seluruhnya, pembedahan untuk meringankan penyumbatan usus, bisa meringankan pokok. Tetapi harapan hidupnya hanya sekitar tujuh bulan. Jika puru ajal telah menyebar seharga ke hati, obat kemoterapi dapat disuntikan langsung ke dalam tenggorokan darah yang pergi ke hati.

Meskipun muluk, pengobatan ini mampu memberikan lebih banyak moral daripada kemoterapi yang biasa. Tetapi pengobatan ini masih mencita-citakan penelitian lebih lanjut. Apabila kanker telah menabur di luar menawan hati, pengobatan ini bukan efektif lagi. Sesudah kanker kolorektal diangkat seluruhnya melalui pembedahan, dilakukan kolonoskopi untuk memeriksa usus yang tersisa, sebanyak 2-5 kali setiap tahunnya. Bila pemeriksaan berikut tidak menunjukkan memilikinya kanker, pemeriksaan selanjutnya dilakukan setiap 2-3 tahun sekali.