Alergi Saat Anak – Tak Masalah Sepele!

doktersehat anak tersedak - Alergi Saat Anak - Tak Masalah Sepele!
Alergi Pada Anak - Bukan Masalah Sepele!
Alergi Pada Anak – Bukan Masalah Sipil!

Alergi ternyata tak hanya menyimpuk kulit atau paru seperti yang selama masa ini kita tahu, melainkan semua perlengkapan tubuh, termasuk perintis. Bagaimana mengenali alergi pada anak?

Menurut Dr. Widodo Judarwanto, Sp. A dari Children Allergy Center RS Bunda, Jakarta, alergi pada anak ternyata tidak sesederhana sebagaimana yang diduga. Sebelumnya, sering kita tangkap (suara) bahwa gejala alergi adalah batuk, influenza, sesak dan gatal di kulit. “Padahal, alergi dapat menyergap semua organ serta sistem tubuh, sedari paru, kulit, kanal kencing, jantung, apalagi susunan saraf induk (otak), ” ulet Widodo.

Ternyata banyak suangi dan komplikasi alergi yang bisa tercipta, sehingga sangat berisiko mengganggu tumbuh sekar anak. “Risiko & tanda alergi itu dapat diketahui mulai anak dilahirkan, lebih dari itu terkadang sejak di kandungan pun sudah biasa bisa terdeteksi. Maka, alergi sebetulnya bisa dicegah sejak pagi buta, ” lanjutnya.

Apa aktual alergi? Alergi merupakan kumpulan gejala kelanjutan reaksi kekebalan jasad (respon imun) yang berlebihan, yang diakibatkan oleh beberapa sumber atau pencetus. Alergi dapat diturunkan atas orangtua atau kakek/ nenek penderita. “Jadi, bila ada orangtua, keluarga atau kakek-nenek yang menderita alergi, kita harus mewaspadai tanda alergi di dalam anak, ” tegas Widodo. Bila siap salah satu dari ke-2 orangtua (ayah misalnya) yang menderita fakta alergi, maka akibat yang mungkin diturunkan pada anak lebih kurang 25 ­ 30 persen. Sementara apabila kedua orangtua alergi, maka risiko alergi menurun ke bujang pun meningkat sebagai 60 ­ 70 persen.

Untuk mengetahui efek alergi pada budak, kita harus mengarifi gejala alergi dalam orang dewasa. “Pasalnya, gejala alergi saat orang dewasa pula bisa mengenai segenap sistem/ organ uci-uci anak, ” liat Widodo. Gejala serta tanda alergi siap ditimbulkan oleh kira-kira pencetus atau sumber, di antaranya:

Makanan
Pada momongan dan anak, target merupakan pencetus tertinggi, sedangkan pada manusia dewasa, pengaruh sasaran semakin berkurang.

Bukan santapan, antara lain:
1. Inhalasi/ hirupan: reja-reja kayu (karpet/filter AC), tepung sari bunga tanaman, serat binatang.
2. Relevansi: sabun, bahan kimia, ataupun logam
3. Kecoa
4. Mite/ tungau pada kasur, randu, dan lain-lain.

Gangguan pencernaan
Alergi yang kerap berulang dan bukan dikendalikan ternyata pun dapat mengganggu struktur saraf pusat (SSP atau otak). Dengan pasti, mekanisme timbulnya gangguan tersebut belum dapat dijelaskan. “Diduga, gangguan SSP ini diakibatkan oleh buah beberapa zat stimulan yang dikeluarkan sama pencernaan penderita alergi, yang biasanya pula terganggu. Di pinggir itu, perubahan hormonal pada penderita alergi diduga juga masuk berperan dalam seloroh tersebut, ” perintah Widodo.

Gangguan otak yang terjadi antara beda keluhan sakit kepala sedang, gangguan tidur, keterlambatan bicara, serta gelaran perilaku. “Gangguan polah yang sering berlangsung antara lain lubuk berlebihan, agresif, overaktif, gangguan belajar, huru-hara konsentrasi, gangguan mobilisasi, hiperaktif hingga autisme, ” lanjutnya.

Selain sindiran SSP, alergi pun bisa mengganggu bervariasi sistem dan perkakas tubuh lain. Kesudahannya, tentu sangat memegang tumbuh-kembang anak. Gelaran yang sering tampak adalah malnutrisi (kurang gizi). “Berat & tinggi badan keturunan kurang dibanding semampai badan anak berbeda yang normal seusianya, ” tambah Widodo. Malnutrisi biasa tercipta pada anak pada atas usia 4-6 bulan, dimana bani mulai dikenalkan persembahan baru yang adakala mengakibatkan alergi / gangguan. “Ini berdampak gangguan pencernaan diantaranya sulit makan, acap muntah, sering diare, sering kembung dan lain-lain, yang berisiko terjadinya malnutrisi. ”

Gejala seloroh pencernaan yang kadang kala timbul antara unik rewel, terus-terusan menangis, kolik di silam hari pada bujang di bawah 3 tahun, bayi beserta riwayat berak darah, serta bayi dengan babad diare berulang.

Tak demi obat
Untuk menjejaki alergi, banyak stadium yang dilakukan. Yang pertama adalah anamnesa, yakni melihat hal orang tua/ keluarga/ kakek-nenek dan tambo penyakit sering serta. Selain itu pula dilakukan pemeriksaan rangka serta pemeriksaan penunjang. “Antara lain skin test allergy, foto rontgen (foto telanjang dada), pemeriksaan lab., dan lainnya, ” ujar Widodo.

Penanganan alergi pada anak benar-benar harus dilakukan dengan benar dan sinambung. “Pemberian obat tetap bukanlah jalan ulung. Yang paling transendental adalah menghindari perancang yang bisa menyebabkan keluhan alergi mereka, ” jelas Widodo.

Berdasar pada teoritis, alergi benar2 tak bisa dihilangkan, tetapi dapat dijarangkan frekuensi kekambuhannya dan dikurangi beratnya sesalan. Dengan pertambahan umur anak, di umur 6-7 tahun, pentolan cak) alergi makanan umumnya akan semakin sepi atau hilang. “Namun, yang sering berlangsung, orangtua justru langsung memberikan makanan lantaran alergi pada budak, dengan tujuan mudah-mudahan anak kebal & tidak lagi alergi. Ini tidak sahih dan tidak akan meredakan gejala alergi, namun malah memperberat. ”